Jangan pernah menyentuh hati seseorang apabila kita hanya mempermainkannya. Jangan pernah menyatakan cinta apabila kita tidak ingin menanggung resiko yang memang kita belum siap. Harus benar benar di pikirkan dan di renungi matang-matang. Karena ini adalah masalah hati, yang dapat membuat dunia ini menjadi gelap dan menyesakkan apabila kita salah bersikap dan berkata.
Sebenarnya saya ingin bercerita sedikit. Tentang kebodohan saya dalam hal urusan menaruh perasaan terhadap laki-laki. Cinta itu adalah fitrah dari Allah. Kita harus mensyukuri akan adanya nikmat cinta kepada semua makhluk. Terlebih lagi cinta kepada lawan jenis yang kita cintai. Dan apabila cinta kita berbalas dan merasa ada respon yang serupa dengan apa yang diharapkan oleh kita. Ooh dunia ini seakan milik berdua, yang lain hanya ngontrak yang perbulannya harus kontan lunas. (maaf berlebihan)
Ya itulah cinta, seoarang raja yang luar biasa angkuh dan bengis bisa tunduk karena cinta seorang perempuan. Apapun akan dilakukan untuk cinta. Agar sang daranya tidak merasa kecewa, dan tetap memberikan keyakinan bahwa sang adam masih melindunginya mirip seorang pahlawan cinta. Hingga sang romeo pun merenggut arti cinta sebenarnya dari sang juliet. Cinta seakan bisa menghalalkan segala cara. Cinta buta. Love is blind, sepertinya bisa mewakili terhadap permasalahan ini.
Cinta, yang apabila kita sudah masuk dan merasakannya, maka, apapun akan terasa indah. Dan maaf, apabila orang sedang merasakan jatuh cinta maka tahi ayam pun rasa coklat. Sungguh luar biasa peraanan cinta terhadap lawan jenis ini. Semuanya hanya ada keindahan. Indah, syahdu dan melenakan.
Namun, dari apa yang dirasakan oleh seseorang yang sedang jatuh cinta, banyak dari kita yang tidak menempatkan posisinya dalam kedudukan yang benar. Kita terlalu mengumbar dan mengeksploitasi rasa cinta kepada sesama dengan cara cara yang tidak di rahmati oleh Allah. Pelampiasan rasa cinta dengan melakukan kegiatan kegiatan yang sungguh tidak dianjurkan. Seperti pegangan tangan, saling bertatap muka menatap kagum, berdua duaan, tukar menukar SMS tanda perhatian, chating, dan bahkan sampai berciuman layaknya seorang suami istri, Naudzubillah.
Ini yang dikhawatirkan. Terkadang kita selalu merindukan bentuk bentuk kesyahduan antara sesama. Sehari saja tidak bertemu seakan menyesakkan. Sehari tidak SMS saja seperti ada anggapan, “ah dia sudah tidak cinta lagi sama saya”. Langsung negatif thinking menyeruak dalam pikiran. SMS tidak dibales langsung mengungkapkan kekesalannya. Apakah ini yang dinamakan cinta…??
Tidak sedangkal itu kita mempresentasikan bentuk ungkapan cinta kepada lawan jenis. Sebagai muslimah yang tidak ingin dibilang rombengan dan berhati payah, saya hanya ingin berbagi tentang apabila kita sudah merasa siap untuk menikah, maka menikahlah, jangan ditunggu tunggu. Jangan melampiaskan rasa cinta itu dengan berdua duaan, saling memadu kasih dengan tidak ada niat untuk segera mengakhirinya dengan ikatan ijab kabul. Karena itu hanya dapat menodai cinta kalian berdua.
Saya tidak ingin seperti itu. Saya menghargai laki-laki yang dapat memahami perempuan yang memiliki prinsip mau menjaga hati dan menanti untuk sang pria agar siap lahir batin. Siap semuanya. Bukankah menikah adalah salah satu jihad untuk mengajak calon pasangan hidup kita untuk beribadah secara bersama sama. Menata masa depan yang cerah. Melihat senyum anak anak kita dan menggandeng tangan anak anak kita untuk mengantar pergi kesekolah. Sungguh indah….
Ya, menikah, adalah pilihan yang tepat untuk siapa saja yang sudah merasa siap. Janganlah kita mengenal yang namanya pacaran dan “taaruf versi anak muda zaman modern” sekarang ini. Merupakan budaya kapitalis yang sangat tidak dirahmati oleh Allah. Pacaran dijadikan alasan yang logis untuk mengenal satu sama lain. Dan saya pernah mendengar ada pembelaaan seperti ini, “eitss pacaran yang bagaimana dulu nih.. kita pacaran tetap dalam koridor islam, tidak melakukan hal hal yang dilarang agama, masih dalam batas normal” Oke, batasan normal yang anda maksud seperti apa..? dengan hanya saling pengertian dan perhatian..? hanya dan hanya… justru dari hal hal kecil itulah yang sudah membuat hati kita merasa benar dan masih dalam batas normal. Benar menurut hukum kita, tapi kalau menurut Alquran dan hadits..? masih bisa mengelak dan itu dianggap benar..?
Perasaan-perasaan itu adalah sikap yang hanya diperbolehkan apabila kita sudah sah menjadi suami istri. Karena bagaimanapun juga bentuk perhatian dan kasih sayang yang diberikan tanpa ada status ikatan yang sah hanya pemuasan nafsu sesaat yang itu datangnya dari setan. Bukannya saya membelenggu rasa cinta terhadap lawan jenis, dan bukan pula saya melarang dan men judge orang berdosa dan salah semua, tapi ya memang beginilah seharusnya. Baik menurut kita, belum tentu baik menurut Allah bukan..?
Saya sempat berfikir juga apabila seseorang sudah menyatakan isi perasaannya kepada lawan jenis, lantas setelah itu ..?? selanjutnya akan bagaimana..? Jalan berdua, saling ber SMS an tanda perhatian, menaruh kepercayaan, berkomitmen (komitmen 2 orang tanpa ada saksi antara 2 keluarga), dan perhatian yang manis-manis..?. Cinta itu akan ternoda apabila kita tidak menyalurkan dengan cara yang benar. Seharusnya adalah cinta itu di ikat dalam status hubungan yang jelas, yang disaksikan oleh banyak orang. Tidak hanya meng iyakan antara dua orang yang sedang kasmaran. Yang percaya bahwa dewa amor seperti cupid telah menancapkan panah hati merah kepada sang pujaan hatinya.
Apabila kita memang belum siap lahir batin, untuk menerima khitbahan atau lamaran, maka cukuplah dengan menjaga hati, jangan mengumbar rasa cinta ini dengan mengungkapkan semuanya, saling curhat antara masalah-masalah kehidupannya, bercerita tentang keluarganya, yang nantinya justru akan menjadi bumerang yang berbahaya. yang dapat menyakiti hati si pihak pria maupun pihak wanita. Harus banyak banyak berpuasa dan jangan terlalu panjang angan mungkin.
Saya ingin menyalurkan rasa cinta itu mirip seperti Proklamasi Indonesia yaitu “ dilaksanakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat singkatnya.” Jadi dilakukan dengan benar dan jangan terlalu lama untuk yang namanya proses perkenalan. Langsung menikah adalah cara yang terbaik. Tidak pacaran, dan tidak saling perhatian, pengertian semu, komitmen semu, dan akbiatnya hanya menimbulkan cinta sesaat atau cinta semu. Tak lebih.
Jangan jadikan pacaran adalah alasan yang jitu untuk membolehkan hubungan perkenalan antara dua manusia. Karena Allah telah mengatur untuk urusan mencari jodoh dengan berbicara kepada wali atau sang murobhinya. Dengan mengutarakan maksud dan niat untuk menerima khitbahan sang pangeran, untuk melepaskan bahunya dari bahu sang ayah atau wali untuk segera bersandar di bahu sang calon suami. Yang akan diapanggil Umi oleh Abi.. Indah,, sungguh indah.
Harus bisa dipertanggung jawabkan. Dengan adanya ikatan secara formal. Itulah yang namanya cinta sejati. Apabila kita mencintai seseorang yang memang kita belum ada siapan untuk menikah secara cepat, maka yang ada hanya nafsu syahwat saja, yang datangnya hanya kenikmatan sementara dan sesaat. Tidak hakiki dan tidak akan lama.
Berbeda dengan cinta yang sudah menikah, akan terasa ibadah apabila kita saling pengertian dan saling menjaga akan sikap dan rasa cinta antar sesamanya. Karena itu sudah menjadi komitmen bersama yang dilegalkan secara sah menurut agama.
Saya sedang belajar, doakan sahabatmu ini agar selalu istiqomah dan selalu memegang prinsip ini. Saya hanya ingin berbagi dan sharing, tidak ada maksud untuk menggurui dan menyinggung siapa siapa. Mohon maaf apabila ada khilaf dan kata kata yang kurang berkenan.